GURU BANGSA HOS TJOKROAMINOTO

Oleh :
Mochammad Azizi Rois
Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI)
Kehadiran Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) tentu tidak bisa lepas dari tokoh sentral Syarikat Islam Indonesia, Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto yang pemikiran-pemikiran besarnya dari Al-Qur’an dan sunnah menjadi landasan gerak dan paradigma berfikir organisasi SEMMI yang tidak akan luntur dan terus ditularkan kepada mahasiswa-mahasiswa calon generasi pemimpin bangsa saat ini untuk masa depan.
Setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu dengan gerakan politik etis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat banyak yang belum mengenyam pendidikan, dan kesenjangan sosial antaretnis dan kasta masih terlihat jelas.
Oemar Said Tjokroaminoto adalah keturunan kaum bangsawan Jawa, anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Tjokro lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882, dengan latar belakang keislaman yang kuat, tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat dengan hidup yang nyaman dibandingkan rakyat kebanyakan saat itu, ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan dan merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata.
Tjokro berjuang dengan membangun organisasi resmi bumiputera pertama terbesar kala itu, sehingga bisa mencapai 2 juta anggota. Organisasi yang diamanahi kepadanya sejak 1912 oleh H. Samanhoedi pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 yang kemudian Tjokro menjadi Ketua pertamanya dengan nama Sarekat Islam (sekarang Syarikat Islam Indonesia). Ia berjuang menyamakan hak dan martabat masyarakat bumiputera di awal 1900 yang terjajah. Perjuangan menjadi benih lahirnya tokoh dan gerakan kebangsaan.
Tjokro yang intelektual, pandai bersiasat, mempunyai banyak keahlian, termasuk silat, mesin, hukum, penulis surat kabar yang kritis, orator ulung yang mampu menyihir ribuan orang dari mimbar pidato, membuat pemerintah Hindia Belanda khawatir, dan membuat mereka bertindak untuk menghambat laju gerak Sarekat Islam yang pesat. Perjuangan Tjokro lewat organisasi Sarekat Islam untuk memberikan penyadaran masyarakat, dan mengangkat harkat dan martabat secara bersamaan, juga terancam oleh perpecahan dari dalam organisasi itu sendiri. Apalagi Tjokro sukses menggelar National Congress (NATICO) Central Sarekat Islam pada 16-17 Juni 1916 di gedung Concordia Bandung (sekarang Gedung Asia Afrika), yang menghadirkan ribuan anggota Sarekat Islam dari seluruh cabang di Indonesia. Dalam rapat besar itu, ia menggaungkan Zelfbestuur (Berkehendak berpemerintahan sendiri, kemerdekaan sejati, Islam Kaffah), dan mencetuskan kata nasional pertama kalinya.
Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Di rumah sederhana yang berfungsi sebagai rumah kos yang di bina oleh istrinya, Suharsikin, Tjokro juga mempunyai banyak murid-murid muda yang pada akhirnya menetas, memilih jalan perjuangannya masing-masing, meneruskan cita-cita Tjokro yang mulia untuk mempunyai bangsa yang bermartabat, terdidik, dan sejahtera. Murid-muridnya yaitu Soekarno kelak akan menjadi proklamator kemerdekaan Bangsa Republik Indonesia dengan haluan nasionalis, Semaoen yang menetaskan faham Komunisme, serta Sekar Maridjan Kartosoewirjo sekretaris pribadi dan pelanjut PSII dengan sikap hidjrah-nya yang meneruskan ideologi Dienul Islam yang diajarkan Tjokro hingga ia memproklamirkan Negara Islam Indonesia ketika negara dalam status bubar dan menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) saat itu.
Foto : Tiga murid Tjokroaminoto, 
kiri ke kanan : SM Kartosoewirjo, Semaoen, dan Soekarno
Kini, Tjokro Sang Raja Tanpa Mahkota telah wafat di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Namun, karyanya mencetak tokoh bangsa tertorehkan dalam tinta emas sejarah bangsa ini. Pemikiran-pemikirannya yang fundamental dalam menyumbangkan konsep negara telah diterapkan dalam kehidupan bangsa hingga sekarang.

Menjadi tugas generasi sekarang, untuk mewujudkan cita-cita tertingginya yakni tujuan untuk berkehendak menjalankan Islam seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya menuju Kemerdekaan Sejati, dengan landasan gerak Program azas dan program tandhim. 
Trilogi Islam yang dicetuskannya, yakni “Semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai-pandai siasah” menjadi landasan perjuangan organisasi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) dalam mencetak generasi-generasi emas pemimpin bangsa masa depan agar mampu menyelamatkan bangsa ini dari fitnah akhir zaman. 
Bersiaplah !!!

Fattaqullaaha mastatho’tum…
Billaahi fii sabiilil haqq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *